Bismillah
Dunia kuliner makin berkembang dan banyak cara untuk
menuntut ilmu mengenai kuliner. Buat saya ilmu bisa di dapat dengan dari mana
saja. Misal membaca buku, browsing internet ataupun menghadiri sebuah
pelatihan. Seperti halnya yang saya lakukan.
Bismillah
Perjalanan ke Yogyakarta beberapa waktu yang lalu bukan
tanpa rencana. Berawal dari niat suami yang ingin kopdar dengan teman blogger
di Semarang. Sewaktu di tengah rencana itu, ternyata jadwal ujian masuk kuliah
untuk tugas belajar tanggal 4 dan 5 Agustus. Di sisi lain, suami juga ingin
menghadiri acara di Surabaya. Dia sudah daftar dan terpilih. Dipikirnya masih
bisa terkejar waktunya. Sepulang dari Surabaya, tanggal & kita berangkat
bareng ke Semarang.
Bismillah…
“Tok..tok..pos…”
“Ya, sebentar…” saya menjawab sekaligus mikir. Kiriman
darimana ya?
Apa pesanan baju yang saya beli via online shop di
Instagram? Lantas saya membuka setelah
mengenakan hijab. Pak Pos menyodorkan lembaran kertas untuk saya tanda tangani
beserta bingkisan besar.
Bismillah....
Sejak pertengahan bulan lalu, Aiman perlahan sudah tidak
menyusu ASI lagi. Tentu saja prosesnya tidak mudah. Teringat bagaimana dulu
awal menyusui. Meski tidak menyusu ASI sejak lahir, tapi saya bersyukur bisa
memberinya ASI hingga batas usia dia tak menyusu lagi.
Kenapa tidak sejak lahir? Ya, karena minimnya pengetahuan
saya. Saking pedenya pas Aiman lahir
bakal bisa langsung menyusu di putting payudara saya. Tetapi kenyataannya, Aiman
bayi masih kesulitan ngenyot. Hanya karena penjelasan perawat yang seharusnya
tidak saya telan mentah-mentah saya terpaksa mengizinkan si perawat memberinya
sufor. Namun saya tetap sambil berusaha
menyusuinya sebisa mungkin. Dulu tidak terpikir untuk menyiapkan alat pemerah
ASI.